Senin, 11 Desember 2017

Nyaman Mengajar dan Memberi Ilmu

Belajar di kelas. Aktifitas yang satu ini menjadi menu harian untuk bapak ibu guru dan para murid di sekolah. Sebagai guru, yang merupakan fasilitator utama, guru sangat berperan untuk membuat menu harian ini dalam sajian yang segar, menarik, tidak membosankan dan tentunya bergizi.
Penyajian yang selalu baru menjadi salah satu faktor untuk menentukan hasil dari proses belajar mengajar. Nah, apa tips dan trik dari bapak ibu guru yang biasa bapak ibu guru lakukan untuk membuat menu harian ini segar dan bergizi? Intip yuks beberapa cara membuat kelas menyenangkan berikut ini!

1. Hindari berdiri di satu posisi
Dalam cara konvensional dalam mengajar, guru selalu mengajar dengan posisi yang sama yaitu di depan kelas. Guru duduk di belakang meja guru atau berdiri di depan papan tulis. Guru biasanya meminta murid untuk membuka buku pelajaran atau membagikan foto kopi materi pelajaran. Kemudian materi tersebut dibahas bersama-sama. Metode ini dikaji sebagai salah satu metode yang tidak efektif, karena belajar terjadi hanya satu arah, guru menyampaikan dan murid mendengarkan. Kira-kira akan berapa lama anak-anak akan bertahan untuk menyimak pelajaran yang diajarkan? 10 menit? 15 menit? Coba saja.

Bandingkan dengan mobile teaching. Guru bisa membahas mata pelajaran dalam jarak dekat dengan murid. Matematika misalnya. Dengan metode mobilitas di dalam kelas, guru bisa benar-benar turun untuk membantu murid menjelaskan penggunaan rumus, perkalian dan lain sebagainya. Selain itu, hal ini juga bisa membantu murid untuk lebih relax, menciptakan suasana bahwa mereka memang sedang belajar bersama dengan guru mereka, bukan selalu diajari atau digurui.
Terlebih, mereka akan merasakan keterlibatan guru secara emosional. Dengan berjalan-jalan, berpindah-pindah posisi, guru juga akan lebih mengetahui secara detail situasi kelas, bahkan melihat apa yang dikerjakan oleh muridnya, satu-persatu. Apakah Donny sedang melamun, Carol sedang menggambar karena bosan, atau ada murid yang bisik-bisik, corat-coret dan lain sebagainya.

2. Pancing ide anak sebanyak-banyaknya
Full attention atau atensi penuh bisa juga didapat dari memancing pendapat, diskusi atau berdebat argument. Tidak semua anak bisa mengeluarkan idea tau pendapat mereka. Sebagai guru, kita harus percaya pada kemampuan dari masing-masing anak. Pacu mereka untuk berani berpendapat, hargai apapun yang mereka ungkapkan. Dengan demikian, selain memberikan materi pelajaran, kita juga melatih mereka untuk terbuka pada perbedaan ide dan mendengarkan orang lain. Hal ini menjadi sangat penting bagi anak, karena ini akan menjadi bekal untuk mereka berinteraksi dengan orang lain, dengan teman, guru, orang tua atau siapa saja yang mereka temui.

3. Bervariasi
Sajikan mata pelajaran dengan berbagai variasi. Misalnya di awal pelajaran, bapak ibu guru bisa memberikan aktivitas untuk class warming up, seperti berdiri bersama dan melakukan yel-yel, atau games selama 5 menit, atau cerita lucu atau apapun yang bisa memberikan semangat dan menyatukan spirit anak untuk belajar bersama bapak ibu guru selama 45 menit atau 90 menit ke depan. Bisa juga setelah 15 menit menjelaskan mata pelajaran, bapak ibu guru bisa menyisipkan kuis selingan. Perbanyak diskusi dengan anak-anak murid. Di akhir pelajaran, bisa ditutup dengan tanya jawab singkat mengenai mata pelajaran yang diajarkan.

4. Berikan perhatian ke semua anak
Yang sering terjadi di kelas adalah guru akan cenderung lebih memperhatikan murid yang pintar dan aktif. Kita coba tarik kembali ke masa kita sekolah dulu. Jika memang kita sebagai anak aktif, kita akan merasa kita sangat diperhatikan oleh guru.

Jika kita diam saja di kelas, maka kita juga tidak akan berkesempatan untuk menuangkan ide ataupun mengaktualisakan diri kita di kelas. Makanya sering muncul jargon, jadilah anak ‘yang paling’…paling pintar, paling paling cantik, paling badung, paling suka telat… Yang penting menjadi ‘paling’, entah paling apa, karena dengan paling, kita baru akan diperhatikan oleh guru.

Bagaimana dengan anak-anak yang dalam taraf biasa-biasa saja? Sekarang ketika menjadi seorang guru, sebenarnya tugas seorang guru lah untuk mengeksplore ‘benih-benih paling’ yang ada di dalam diri masing-masing anak. Sebagai guru, guru harus percaya bahwa setiap anak punya talenta dan potensi yang berbeda-beda.

5. Maksimalkan teknologi
Salah satu alat yang membantu guru untuk menciptakan suasana aktif dan segar adalah teknologi. Manfaatkan teknologi yang ada, seperti laptop, internet dan projektor untuk mengubah materi pelajaran text book ke audio visual. Dengan penyajian yang baik dan menarik, fokus anak akan lebih terarah pada materi yang disampaikan. Jangan ragu untuk mengotak-atik atau membuat sesuatu yang berbeda dengan teknologi.

Dengan satu klik di sebuah website, guru bisa mendapatkan berbagai pengetahuan yang bisa diseleksi menyesuaikan mata pelajaran yang sedang dibahas. Berbagai situs tentang edukasi dan pengetahuan tersedia, salah satunya adalah portal kesekolah.com yang menyajikan berbagai artikel dari kesehatan, pendidikan, berita, solusi edukasi dan lain sebagainya. Dengan demikian, pembahasan materi yang dilakukan di dalam kelas akan lebih bervariasi dan selalu segar, karena informasi dari internet selalu update dan terkini.
Source : www.kesekolah.com


Rabu, 06 Desember 2017

Pengertian-pengertian teori sosial

Teori-teori Sosial
Manusia dan Masyarakat
Pengertian Manusia
Soerjono Soekanto (2012:101) menjelaskan bahwa manusi memiliki naluri untuk hidup dengan manisa lain Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) (2015)  manusia adalah mahluk yang berakal yang dapat menguasai mahluk hidup lain. Manusia memiliki akal yang dapat digunakan untuk kehidupan manusi sendiri. Koentjaraningrat (2009: 67-81) manusia adalah mahluk yang memiliki suatu kebudayaan yang dibentuk berdasarkan akal manusia itu sendiri. kebudayaan tersebut yakni Bahasa, teknologi, mata pencaharian, organisasi, sistempengetahuan dan system religi. Dari pengertian ini bahwa manusia adalah mahluk yang berbudaya dalam kehidupannya. Sedangkan Hegel menyebutkan bahwa manusia adalah keseluruhan proses penyempurnaan-diri Roh tersebut menjadi absolut, Poespowardojo dan Bertens (1978:4). Setiadi dan kolip (2013:32) menjelaskan bahwa manusia adalah mahluk sosial yang bersifat fungsional dan dinamis. Dari pemaparan diatas dapat disimpulkan bahwa manusia adalah mahluk Roh dalam raga yang memiliki akal yntuk menguasai mahluk lain serta mahluk sosial yang memiliki kebutuhan akan budaya.

Kebutuhan Manusia
Menurut Poespowardojo dan Bertens (1978:5) bahwa manusia adalah mahluk yang serba butuh fisik dan rohani. Kebutuhan akan terpenuhinya kebutuhan sandang,pangan, papan adalah bentuk kebutuhan fisik sedangkan kebutuhan rohani berupa persaan senang dan nyaman secara rohani. Semua kebutuhan tersebut dilakukan manusia hanya semata memuaskan keinginan.
Menurut Abraham Maslow (dalam Agustina 2009:2)mengacu pada lima kebutuhan pokok yang disusun secara hirarkis. Tata lima tingkatan motivasi secara secara hierarkis ini adalah kebutuhan keamanan dan ke-selamatan kerja (Safety Needs), kebutuhan yang bersifat fisiologis (lahiriyah), kebutuhan sosial (Social Needs), kebutuhan akan prestasi (Esteem Needs) dan kebutuhan mempertinggi kapisitas kerja (Self actualization).
Menurut Kierkegaard (dalam Poespowardojo dan Bertens 1978:5-6) menyatakan bahwa hidup manusia mempunyai tiga taraf yaitu estetis, etis dan religius. Estetis memili arti yaitu bahwa manusia mampu menganggap dunia ini mengagumkan dan dapat diungkapkan kembali. Etis memiliki arti meningkatkan taraf estetis kedalam kehidupan sehari-hari dalam bentuk kegiatan. Sedangkan religius bahwa manusia menghayati semua taraf estetis dan taraf etis dengan hati dan kepercayaannya.
Penjelasan diatas dapat ditarik kesimpulah bahwa manusia memiliki kebutuhan dalam hidupnya. Kebutuhan tersebut sangat berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan sehari-hari secara jasmani dan rohani. Secara jasmani dapat dikatakan kebutuhan akan fisik seperti biologis, konsumsi, tempat tinggal, interaksi. Sedangkan dalam kebutuhan rohani dapat dikatan tingkat kepuasan hati manusia terhadap kebutuhan jasmani dan juga hubungan antara manusia dengan sistem kepercayaannya.

Interaksi
Setiadi dan kolip (2013: 63-64) Interaksi merupakan suatu bentuk kegiatan manusia dengan manusia lain yang terdapat aksi dan reaksi dan didasari nilai dan norma yang berlaku di dalam masyarakat. Menurut soerjono soekanto (2012:62) menyatakan bahwa interaksi sosial merupakan hubungan sosial yang dinamis, menyangkut hubungan antara individu, antara kelompok maupun individu dengan kelompok baik secara langsung atau tidak langsung. Dapat disimpulkan bahwa interaksi sosial adalah sebuah proses komunikasiyang terdapat aksi dan reaksi bagi pelakunya baik secara langsung maupun tidak langsung.
Dalam kehidupan interaksi merupakan bentuk komunikasi yang memiliki banyak kegunaan. Kegunaan tersebut banyak digunakan untuk saling meahami, saling mengerti. Dengan demikian interaksi sangatlah penting dilakukan dalam kehidupan bermasyarakat.

Masyarakat
Jp Gilin dan Jl Gilin menjelaskan (dalam Setiadi dan Kolip, 2013:390) bahwa masyarakat merupakan The largest grouping in which common costom, traditons, attitudes, and feeling of unity are operative. Dari kalimat tersebut masyarakat merupakan sekelompok manusia yang menempati wilayah tertentu dalam jangka waktu yang sangat lama, terdapat aturan dan nilai yang dianut dan memiliki perasaan perasaan kesatuan serta identitas diri masyarakat tersebut. Dalam arti ini bahwa manusia memiliki ikatan dengan manusia lain.
Masyarakat adalah kesatuan hidup manusia yang berinteraksi menurutsuatu sistem adat-istiadat tertentu yang bersifat kontinu, dan terikat rasa identitas yang sama. (Koentjaraningrat 2009:118). Soerjono soekanto (2012:104) Masyarakat merupakan himpunan atau satu kesatuan manusia yang hidup bersama, karena adanya hubungan timbal balik yang saling mepengaruhi di antara mereka

Integrasi dan Kerukunan
Pierre L Berghe menjelaskan (dalam Setiadi dan Kolip, 2013:378) bahwa Integrasi sosial akan terjadi apabila elemen sosial memiliki perasan in group terhadap masyarakat. Dari hal ini Nampak jelas bahwa kerukunan akan terjadi apabila masyarakat atau individu memiliki ikatan yang sama dalam sebuah kelompok masyarakat.
Gesellschaft dan gemainschaft
Tonnies (dalam Sztompka 2014:27) dengan teorinya mengenai gemeinschaft dan gesellschaft sebagai dua bentuk yang menyertai perkembangan kelompok-kelompok sosial.Tonnies (dalam Soekanto 2012:120)  Gemeinschaft (paguyuban) adalah bentuk kehidupan bersama dimana anggota-anggotanya diikat oleh hubungan batin yang murni , bersifat alamiah dan bersifat kekal. Dasar dari hubungan tersebut adalah rasa cinta dan rasa kesatuan batin yang memang telah dikodratkan, kehidupan tersebut dinamakan juga bersifat nyata dan organis. Bentuk gemeinschaft dapat dijumpai di dalam keluarga, kelompok kekerabatan.
Tonnies memaparkan gemeinschaft adalah bentuk-bentuk kehendak, baik dalam arti positif maupun negatif yang berakar pada manusia dan diperkuat oleh agama dan kepercayaan, yang berlaku di dalam bagian tubuh dan prilaku atau kekuatan naluria.  Tonnies mengungkapkan bahwa suatu paguyuban (gemeinschaft) mempunyai beberapa ciri pokok,yaitu intimate, private, dan exclusive. Intimate yaitu hubungan menyeluruh yang mesra, sedangkan private merupakan hubungan yang bersifat pribadi, khusus untuk beberapa orang saja dan exclusive berarti hubungan itu hanyalah untuk “kita” saja dan tidak untukorang-orang diluar”kita”. Di dalam gemeinschaft, apabila terjadi suatu perselisihan atau pertentangan paham, maka penyelesaiannya tidak cukup dilakukan atas nama pribadi, akan tetapi menjadi urusan bersama atas nama kelompok. Misalnya, perkawinan yang masih ada hubungan keluarga, atau hanya berasal dari satu kampung saja, kalau pada suatu saat terjadi pertengkaran, sehingga sampai pada perceraian maka urusannya menjadi urusan keluarga besar maka para anggotanya merasa sudah saling terikat ketika sudah
masuk dalam paguyuban itu.
Tonnies mengatakan bahwa dalam setiap masyarakat selalu ada salah satu diantara tiga kelompok gemeinschaft, yaitu gemeinschaft by blood, gemeinschaft of place dan gemeinschaft of mind . Gemeinschaft by blood yaitu paguyuban yang merupakan ikatan yang didasarkan pada ikatan darah atau keturunan contohnya: keluarga dan kelompok kekerabatan. Gemeinschaft of place yaitu suatu paguyuban yang terdiri dari orang-orang  yang berdekatan tempat tinggal, sehingga dapat saling tolong-menolong contohnya : RT, RW, dan arisan. Gemeinschaft of mind yaitu suatu gemeinschaft yang terdiri dari orang-orang yang walaupun tempat tinggalnya tidak berdekatan, tetapi mereka mempunyai jiwa dan pikiran yang sama, ideologi sama. Paguyuban semacam ini biasanya ikatannya tidaklah sekuat paguyuban karena darah atau keturunan.
Sementara itu Tonnies (dalam soekanto 2012:120) menyebutkan bahwagesellschaft, adalah kelompok yang didasari oleh ikatan lahiriah yang jangka waktunya hanya terbatas. Menurut Tonnies gesellschaft hanya bersifat sebagai suatu bentuk dalam pikiran belaka serta strukturnya bersifat mekanis sebagaimana dapat diumpamakan dengan sebuah mesin. Gesellschaft ini terutama terdapat di dalam hubungan perjanjian yang berdasarkan ikatan timbal balik. Dalam gesellschaft anggota-anggotanya terdapat sebagai orang luar terhadap yang lain. Tiap anggota hanya bergerak untuk kepentingan sendiri, dan tindakan diambilnya jika ada keuntungan di belakangnya.
Demikian maka disini selalu terdapat bahwa orang-orang itu tidak peduli pada keadaan partnernya kecuali untuk memenuhi suatu segi kebutuhannya :untuk membeli (dalam perdagangan), untuk bermain olahraga, untuk mencapai tujuan politis. Suasana semacam itu terdapat dalam kumpulan dagang dan kumpulan ekonomi lainnya, dimana saudagar yang hanya bergerak untuk mencari untung

Solidaritas
Durkheim (dalam Sztompka 2014:27)membagi tipe masyarakat menjadi dua bentuk, yaitu masyarakat dengan Solidaritas Mekanis dan masyarakat dengan Solidaritas Organis. Tipe masyarakat dengan Solidaritas Mekanis (mechanistic solidarity) dengan masyarakat yang memiliki Solidaritas Organis (organic solidarity).
Durkheim (dalam Setiawan 2013:262) menjelaskan bahwa Suatu masyarakat yang memiliki Solidaritas Mekanis adalah masyarakat dimana individu-individu terikat secara homogen kedalam kesatuan-kesatuan sosial dan concience collective di dalam masyarakat sedemikian itu adalah bersifat represif dimana setiap pelanggaran terhadap peraturan-peraturan yang ada selalu di kaitkan dengan sanksi-sanksi hukuman. Masyarakat dengan Solidaritas Mekanis adalah suatu masyarakat yang relatif homogen, khususnya dalam hal  pembagian pekerjaan.
Solidaritas Organis adalah suatu masyarakat yang telah menjadi semakin heterogen dan semakin mandiri. Heterogenitas dan kemandirian tersebut terjadi sebagai akibat kian berkembangnya pembagian pekerjaan sosial. Namun, patutlah dicatat, bahwa sekalipun heterogenitas dan kemandirian kian berkembang, akan tetapi individu individu yang semakin mandiri itu justru menjadi semakin tergantung satu sama lain dan kian saling soliter. Hal ini disebabkan karena masing-masing individu itu kini hanyalah merupakan suatu bagian saja dari suatu pembagian pekerjaan sosial.
Solidaritas di dalam masyarakat yang demikian ini adalah Solidaritas Organis. Pada masyarakat Solidaritas Organis kebanyakan masyarakatnya lebih cenderung individual karena adanya pembagian pekerjaan sosial. Solidaritas Organis biasanya terdapat di daerah perkotaan yang masyarakatnya cenderung memiliki kesibukan yang sangat padat dan budaya yang ada di perkotaan sudah banyak yang mulai luntur, bahkan nilai-nilai dalam keluarga juga mulai luntur.


Daftar Pustaka

Agustina, Ika. 2009. Faktor-Faktor Motivasi Yang Mempengaruhi Kinerja Karyawan Pada Pt Gaya Menunggal Kresitama.  Universitas Guna Dharma. (Online) (www.gunadarma.ac.id/library/articles/graduate/economy/2009/Artikel_10205611.pdf),diakses pada 31 Maret 2015.
Departemen Sosiologi. 2012. Pergeseran Nilai dalam Hubungan Antar Generasi Serta Dampak Terhadap Lansia Studi Deskriptif Lansia yang Tinggal Di Panti Werdha “Majapahit” Mojokerto.FISIP, Universitas Airlangga. (Online) (http://alhada-fisip11.web.unair.ac.id/), diakses pada 27 Maret 2015.
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. 2014. Ilmu Pengetahuan Sosial buku guru. Jakarta: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.
Koentjaraningrat. 2009. Pengantar Ilmu Antropologi. Jakarta: Rineka Cipta.
Poespowardojo, Soerjanto dan Bertens K. 1978. Sekitar Manusia Bunga Rampai Tentang Filsafat Manusia. Jakarta: Gramedia.
Seokanto, Soerjono. 2012. Sosiologi Suatu Pengantar. Rajawali Pers: Jakarta.
Setiadi, Elly M dan Kolip, Usman. 2013. Pengantas Sosiologi Pemahaman Fakta Dan Gejala Permasalahan Sosial: Teori, Aplikasi Dan Pemecahannya. Jakarta: Kencana.
Setiawan,Ramdhani. 2013. Solidaritas Mekanik Ke Solidaritas Organik Suatu Ulasan Pemikiran Emile Durkheim. FISIP, Universitas Maritim raja Ali Haji. (Online) (http//riset.umrah.ac.id/wp-content/uploads/2013/10/SOLIDARITAS-MEKANIK-KE-SOLIDARITAS-ORGANIK.pdf), diakses pada 30 Maret 2015.
Silalahi, Eli Nova. 2013. Corak Gemeinschaft Punguan Parsahutaon Dos Roha dalam Realisasi Sosial Masyarakat Batak Perantauan Di Tegal. Jurusan Sosiologi dan Antropologi, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Semarang. (online)(lib.unnes.ac.id/18030/1/3401409029.pdf), diakses pada 27 Maret 2015.


Suharto, Toto. Konsep dasar pendidikan Bebasis Masyarakat. Fakultas Tarbiyah IAIN Raden Fatah Palembang. (Online),(eprints.uny.ac.id/3789/1/A01-toto.pdf), diakses pada 31Maret 2015.

Contoh proposal penelitian

Halo guys, kali ini saya akan memberi sedikit contoh atau reverensi dari proposal ku yang pernah aku kerjakan untuk studiku.
Namun dri permintaan dosen2 ku proposalku ini tidak di stujui.
Al hasil ya buat ulang lagi.

Semoga sdikit banyak menjadi reverensi penelitian dari pembuatan proposal penelitian yang akan pembaca lakukan.


BAB I
PENDAHULUAN


LATAR BELAKANG
K 13 menjelaskan bahwa pembelajaran haruslah dimulai dari hal kecil atau sempit dan menuju hal yang lebih luas sesuai dengan hakikat kontekstual. *(……..). pembelajaran umumnya dilakukan dari hal yang termudah menuju hal yang lebih sulit dipecahkan ..
Dalam Buku Pegangan Guru Ilmu Pengetahuan Sosial  kelas VIII semester 2 yang menganut kurikulum 13 terdapat Kompetensi Inti 3 yaitu Memahami dan menerapkan pengetahuan (faktual, konseptual, dan prosedural) berdasarkan rasa ingin tahunya tentang ilmu pengetahuan, teknologi, seni, budaya terkait fenomena dan kejadian tampak mata *(…….). Lebih tepatnya pada KD 3.4  Mendeskripsikan bentuk-bentuk dan sifat dinamika interaksi manusia dengan lingkungan alam, sosial, budaya, dan ekonomi. Kompetensi tersebut bertema: Keragaman Sosial Budaya sebagai Modal Dasar Pembangunan Nasional yang mencakup berbagai sub tema dan sub-subtema anatra lain:
Subtema A: Sifat dan Bentuk Interaksi Sosial Budaya dalam Pembangunan
Sub-subtema 1: Sifat-Sifat Interaksi Sosial Budaya dalam Kehidupan Masyarakat
Sub-subtema 2: Bentuk-bentuk Interaksi Sosial dalam Kehidupan Masyarakat dan
Sub-subtema 3: Fungsi dan Peran Keragaman Budaya
Subtema B: Fungsi dan Peran Keragaman Sosial Budaya dalam Pembangunan
Sub-subtema 1: Fungsi dan peran Keragaman Suku Bangsa
Sub-subtema 2: Fungsi dan Peran Keragaman Bahasa
Sub-subtema 3: Fungsi dan Peran Keragaman Budaya dan
Sub-subtema 4: Fungsi dan Peran Keragaman Agama
Subtema C: Fungsi dan Peran Kelembagaan dalam Mengelola Keragaman Sosial Budaya
Subtema D: Kemerdekaan sebagai Modal Pembangunan
Sub-subtema 1: Perubahan Masyarakat Indonesia pada Masa Penjajahan Bangsa Barat
Sub-subtema 2: Perubahan Masyarakat pada Masa Penjajahan Jepang
Sub-subtema 3: Persiapan dan Proklamasi Kemerdekaan dan
Sub-subtema 4: Proklamasi Kemerdekaan sebagai Pintu Gerbang Pembangunan.
Manfaat yang ingin dicapai dalam penelitian ini yaitu nantinya dapat berguna sebagai pengembangan bahan ajar yang kontekstual di area Kecamatan Tumpang. Manfaat tersebut dapat di temui pada subtema A dengan sub-subtema 3 : fungsi dan peran keragaman budaya. Dalam pembahasan latar belakang tentang kegiatan masyarakat Bersih Desa mengacu pada subtema A dengan sub-subtema 3 : fungsi dan peran keragaman budaya.
Matakuliah yang telah ditempuh yaitu teori-teori sosial. Emile durkheim dan ferdinan tonies yang  telah  mengkaji keadan faktual yang terjadi di masyarakat. Matakuliah media pembelajaran yang mengkaji pentingnya  pengembangan materi pembelajaran dan juga media pembelajaran. Kajian kurikulum yang membahas bahwa materi pembelajaran haruslah kontekstual dari hal yang sederhana menuju hal yang lebih luas
Indonesia memiliki tujuan-tujuan yang mendasari. Tujuan dari negara ini telah terkandung dalam pembukaan UUD 1945, yang menyebutkan bahwa: mewujudkan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, melindungi segenap bangsa dan tumpah darah Indonesia, setra ikut melaksanakan ketertiban dunia berdasarkan perdamaian abadi dan keadilan bagi seluruh rakyat Indonesia. Salah satu dari tujuan tersebut ialah mewujudkan kesejahteraan umum. Dari hal tersebut tidak hanya peran pemerintah saja yang menangani kesejahteraan melainkan juga peran masyarakat itu sendiri. Peran dari semua pihaklah yang akan menentukan kesejahteraan masyarakat di Indonesia.
Kesejahteran manusia dapat diukur secara jasmani atau fisik maupun secara rohani (Poespowardojo, S dan Bertens K, 1978:5). Dari konsep tesebut yang menerangkan kesejahteraan manusia dapat ditangkap garis besarnya000 bahwa masyarakat juga memiliki kebutuhan jasmani dan rohani. Dalam pandangan  ilmu ekonomi manusia memiliki pemikiran untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari untuk bertahan hidup.
Kesejahteraan masyarakat dapat diwujudkan dengan berbagai kegiatan kemasyarakatan. Memungkinan kegiatan tersebut dapat mewujudkan rasa nyaman, damai dan tidak menutup kemungkinan kerukunan di dalam masyarakat menjadi lebih erat. Kegiatan kemasyarakatan talah banyak dilakukan oleh pihak pemerintah, swasta ataupun masyarakat itu sendiri.
Peran pemerintah dalam mewujudkan kesejahteraan secara fisik yaitu dengan melakukan pembangunan dan bantuan-bantuan kepada masyarakat. Kesejahteraan dapat terlihat dari rasa kenyamanan masyarakat, tidak ada guncangan batin seperti adanya konflik di dalam masyarakat. Banyak kegiatan yang dikeluarkan pihak pemerintah. Kegiatan tersebut dapat disebutkan beberapa yaitu Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri (PNPM Mandiri), pendidikan gratis program 9 tahun atau 12 tahun, Bantuan Siswa Miskin (BSM), kebijakan tentang pemberian pinjaman modal dengan bunga keil, Bantuan Langsung Tunai (BLT) atau Bantuan Langsung Sementara Masyarakat (BLSM) dan kegiatan lainnya. Semua yang dilakukan pemerintah semata untuk memenuhi kebutuhan masyarakat agar tercipta rasa nyaman di dalam masyarakat.
Kegiatan masyarakat dapat terlihat dari berbagai kegiatan yang dibuat oleh masyarakat itu sendiri. Kegiatan tersebut yang biasa dilakukan yaitu gotong royong dalam pembersihan selokan kampung, gotong royong dalam panen padi, perayaan acara 17 agustusan dengan mengadakan lomba, perayaan bersih desa, perayaan kegiatan keagamaan seperti pengajian, perayaan khitan masal, perayaan arak-arakan seperti kesenian bantengan dan kesenian kuda lumping dan kegiatan lainnya. Semua kegiatan yang telah dilakukan semata untuk rasa aman, nyaman dan suasana damai di dalam masyarakat.
Semua kegiatan yang telah dilakukan pada dasarnya dapat mencerminkan suatu bentuk masyarakat yang damai, sejahtera dan rukun. Kerukunan dapat terlihat dari interaksi dan tingkaah laku masyarakat dalam kegiatan tersebut. Apakah kegiatan tersebut berpengaruh positif atau malah sebaliknya?. Pengaruh positif akan menimbuklan suatu bentuk kerukunan dan timbal balik yang positif seperti sedikit terjadi konflik di dalam masyuarakat.
Kerukunan masyarakat dari masyarakat untuk masyarakat telah tercermin pada masyarakat Desa Tumpang Kecamatan Tumpang Kabupaten Malang. Di Desa Tumpang telah banyak kegiatan kemasyarakatan yang telah dilakukan. Kegiatan tersebut antara lain terdapat kegiatan bedah rumah, kerja bakti, gotong royong dalam pembuatan selokan, kegiatan agustusan seperti lomba dan penghiasan kampung-kampung, acara rutin tahunan yaitu arak-arakan atau bersih desa, kegiatan keagamaan seperti pengajian dan khitan masal, kegiatan pernikahan yaitu kegiatan biodo atau membantu dalam memasak, ngelayat orang meninggal, kegiatan kemanusiaan erupsi Gunung Kelud yang terjadi 13 februari 2014.
Kegiatan bedah rumah yaitu pembanguan rumah kurang layak huni bagi masyarakat kurang mampu. Kegiatan ini telaah di terima oleh 13 kepala keluarga di Desa Tumpang. Pembedahan sebanyak 13 rumah ini dilakukan secara Cuma-cuma oleh masyarakat Tumpang. Biaya kegiatan diperoleh dari pengalakan dana dari setiap rumah-rumah. Dengan para pekerja adalah masyarakat Tumpang sendiri. Kegiatan lainya seperti arak-arakan, agustusan dengan menghias kampung juga seperti itu dalam pengalakan dana dan pelaku kegiatan.
Kegiatan agustusan meliputi acara penghiasan kampung-kampung dengan memberikan rumbai-rumbai di setiap sudut kampung dan juga arak-arakan. Pelaksanaan kegiatan ini dilakukan secara bersama-sama dan ramai-ramai. Kegiatan ini mencakup dari kalangan anak-anak, remaja dan dewasa. Dari kegiatan tersebut telah tercermin bahwa rasa kerukunan masyarakat ini sangat kental dan kuat.
Kegiatan kemanusiaan erupsi Gunung Kelud yang dilakukan di Desa Pandan Sari, Kecamatan Ngantang, Kabupaten Malang. Kegiatan ini sangat mencerminkan kepedulian masyarakat Tumpang terhadap kondisi sekitar yang membutuhkan. Bantuan yang diberikan tersebut seperti genting, baju bekas, dan sembako. Pemberian tersebut diperoleh dari Warga Tumpang yang menyumbangkan barang-barang.
Penelitian terdahulu dilakukan Eli Nova Silalahi mahsiswa dari Jurusan Sosiologi dan Antropologi, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Semarang dengaan judul Corak Gemeinschaft Punguan Parsahutaon Dos Roha dalam Realisasi Sosial Masyarakat Batak Perantauan Di Tegal. bahwa masyarakat batak menjadikan punguan di jadikan sebagai wadah meningkatkan solidaritas sosial antar sesama masyarakat batak, bentuk relasi sosial yang terjadi antar anggota adalah saling membantu di setiap peringatan-peringatan yang di gelar anggotanya (Silalahi, 2013).
Penjelasan di atas menitik beratkan perlu adanya penelitian yang mengangkat kerukunan masyarakat Desa Tumpang. Kerukunan akan terlihat segala kegiatan yang telah dilakukan di Desa Tumpang. Penelitian ini berjudul “Kajian Kerukunan Masyarakat dalam Kegiatan Bersih Desa di Desa Tumpang, Kecamatan Tumpang,Kabupaten Malang”.

Fokus Penelitian
Berdasarkan latar belakang di atas dapat ditetapkan fokus penelitian yaitu peran aktifitas kerukunan yang ada di dalam Masyarakat Desa Tumpang, Kecamatan Tumpang, Kabupaten Malang. Dengan menitik beratkan berbagai fenomena kerukunan yang terdapat di masyarakat.

Tujuan Penelitian
Berdasarkan fokus penelitian yang telah diuraikan tujuan dari penelitian ini yaitu memperoleh suatu temuan berupa karekteristik kerukunan masyarakat yang terdapat di Desa Tumpang, Kecamatan Tumpang, Kabupaten Malang.
Sebagai bahan pengembangan materi ajar di dalam kompetensi inti 3 dengan kompetensi dasar 3.4.

Kegunaan Penelitian
Adapun kegunaan dari penelitian ini diharapkan bermanfaat bagi pihak yang berminat  sebagai berikut:
Bagi penulis
Sebagai wadah untuk menerapkan teori dan praktek yang telah diperoleh selama di bangku perkuliahan dan dijadikan pengalaman berharga dalam mempelajari meupun mengetahui kondisi ataupun kenyataan yang ada di masyarakat.
Universitas Negeri Malang
Bagi lembaga universitas negeri malang sebagai koleksi keragaman penelitian yang pernah dilakukan oleh mahasiswa, sedangkan bagi Fakultas Ilmu Sosial khususnya program studi Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial diharapkan dapat menjadi masukan untuk pengembangan lebih lanjut serta sebagai bahan referensi untuk pembanding.
Bagi peneliti
Sebagai bekal pengembangan materi ajar ilmu pengetahuan social di jenjang Sekolah Menengah Pertama atau Madrasah Tsanawiyah.
Bagi pembaca
Diharapkan dapat memberikan pengetahuan yang lebih serta sebagai bahan rujukan dengan konteks yang menyerupai.

Kajian Teori
Manusia dan Masyarakat
Pengertian Manusia
Soerjono Soekanto (2012:101) menjelaskan bahwa manusi memiliki naluri untuk hidup dengan manisa lain Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) (2015)  manusia adalah mahluk yang berakal yang dapat menguasai mahluk hidup lain. Manusia memiliki akal yang dapat digunakan untuk kehidupan manusi sendiri. Koentjaraningrat (2009: 67-81) manusia adalah mahluk yang memiliki suatu kebudayaan yang dibentuk berdasarkan akal manusia itu sendiri. kebudayaan tersebut yakni Bahasa, teknologi, mata pencaharian, organisasi, sistempengetahuan dan system religi. Dari pengertian ini bahwa manusia adalah mahluk yang berbudaya dalam kehidupannya. Sedangkan Hegel menyebutkan bahwa manusia adalah keseluruhan proses penyempurnaan-diri Roh tersebut menjadi absolut, Poespowardojo dan Bertens (1978:4). Setiadi dan kolip (2013:32) menjelaskan bahwa manusia adalah mahluk sosial yang bersifat fungsional dan dinamis. Dari pemaparan diatas dapat disimpulkan bahwa manusia adalah mahluk Roh dalam raga yang memiliki akal yntuk menguasai mahluk lain serta mahluk sosial yang memiliki kebutuhan akan budaya.

Kebutuhan Manusia
Menurut Poespowardojo dan Bertens (1978:5) bahwa manusia adalah mahluk yang serba butuh fisik dan rohani. Kebutuhan akan terpenuhinya kebutuhan sandang,pangan, papan adalah bentuk kebutuhan fisik sedangkan kebutuhan rohani berupa persaan senang dan nyaman secara rohani. Semua kebutuhan tersebut dilakukan manusia hanya semata memuaskan keinginan.
Menurut Abraham Maslow (dalam Agustina 2009:2)mengacu pada lima kebutuhan pokok yang disusun secara hirarkis. Tata lima tingkatan motivasi secara secara hierarkis ini adalah kebutuhan keamanan dan ke-selamatan kerja (Safety Needs), kebutuhan yang bersifat fisiologis (lahiriyah), kebutuhan sosial (Social Needs), kebutuhan akan prestasi (Esteem Needs) dan kebutuhan mempertinggi kapisitas kerja (Self actualization).
Menurut Kierkegaard (dalam Poespowardojo dan Bertens 1978:5-6) menyatakan bahwa hidup manusia mempunyai tiga taraf yaitu estetis, etis dan religius. Estetis memili arti yaitu bahwa manusia mampu menganggap dunia ini mengagumkan dan dapat diungkapkan kembali. Etis memiliki arti meningkatkan taraf estetis kedalam kehidupan sehari-hari dalam bentuk kegiatan. Sedangkan religius bahwa manusia menghayati semua taraf estetis dan taraf etis dengan hati dan kepercayaannya.
Penjelasan diatas dapat ditarik kesimpulah bahwa manusia memiliki kebutuhan dalam hidupnya. Kebutuhan tersebut sangat berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan sehari-hari secara jasmani dan rohani. Secara jasmani dapat dikatakan kebutuhan akan fisik seperti biologis, konsumsi, tempat tinggal, interaksi. Sedangkan dalam kebutuhan rohani dapat dikatan tingkat kepuasan hati manusia terhadap kebutuhan jasmani dan juga hubungan antara manusia dengan sistem kepercayaannya.

Interaksi
Setiadi dan kolip (2013: 63-64) Interaksi merupakan suatu bentuk kegiatan manusia dengan manusia lain yang terdapat aksi dan reaksi dan didasari nilai dan norma yang berlaku di dalam masyarakat. Menurut soerjono soekanto (2012:62) menyatakan bahwa interaksi sosial merupakan hubungan sosial yang dinamis, menyangkut hubungan antara individu, antara kelompok maupun individu dengan kelompok baik secara langsung atau tidak langsung. Dapat disimpulkan bahwa interaksi sosial adalah sebuah proses komunikasiyang terdapat aksi dan reaksi bagi pelakunya baik secara langsung maupun tidak langsung.
Dalam kehidupan interaksi merupakan bentuk komunikasi yang memiliki banyak kegunaan. Kegunaan tersebut banyak digunakan untuk saling meahami, saling mengerti. Dengan demikian interaksi sangatlah penting dilakukan dalam kehidupan bermasyarakat.

Masyarakat
Jp Gilin dan Jl Gilin menjelaskan (dalam Setiadi dan Kolip, 2013:390) bahwa masyarakat merupakan The largest grouping in which common costom, traditons, attitudes, and feeling of unity are operative. Dari kalimat tersebut masyarakat merupakan sekelompok manusia yang menempati wilayah tertentu dalam jangka waktu yang sangat lama, terdapat aturan dan nilai yang dianut dan memiliki perasaan perasaan kesatuan serta identitas diri masyarakat tersebut. Dalam arti ini bahwa manusia memiliki ikatan dengan manusia lain.
Masyarakat adalah kesatuan hidup manusia yang berinteraksi menurutsuatu sistem adat-istiadat tertentu yang bersifat kontinu, dan terikat rasa identitas yang sama. (Koentjaraningrat 2009:118). Soerjono soekanto (2012:104) Masyarakat merupakan himpunan atau satu kesatuan manusia yang hidup bersama, karena adanya hubungan timbal balik yang saling mepengaruhi di antara mereka

Integrasi dan Kerukunan
Pierre L Berghe menjelaskan (dalam Setiadi dan Kolip, 2013:378) bahwa Integrasi sosial akan terjadi apabila elemen sosial memiliki perasan in group terhadap masyarakat. Dari hal ini Nampak jelas bahwa kerukunan akan terjadi apabila masyarakat atau individu memiliki ikatan yang sama dalam sebuah kelompok masyarakat.
Gesellschaft dan gemainschaft
Tonnies (dalam Sztompka 2014:27) dengan teorinya mengenai gemeinschaft dan gesellschaft sebagai dua bentuk yang menyertai perkembangan kelompok-kelompok sosial.Tonnies (dalam Soekanto 2012:120)  Gemeinschaft (paguyuban) adalah bentuk kehidupan bersama dimana anggota-anggotanya diikat oleh hubungan batin yang murni , bersifat alamiah dan bersifat kekal. Dasar dari hubungan tersebut adalah rasa cinta dan rasa kesatuan batin yang memang telah dikodratkan, kehidupan tersebut dinamakan juga bersifat nyata dan organis. Bentuk gemeinschaft dapat dijumpai di dalam keluarga, kelompok kekerabatan.
Tonnies memaparkan gemeinschaft adalah bentuk-bentuk kehendak, baik dalam arti positif maupun negatif yang berakar pada manusia dan diperkuat oleh agama dan kepercayaan, yang berlaku di dalam bagian tubuh dan prilaku atau kekuatan naluria.  Tonnies mengungkapkan bahwa suatu paguyuban (gemeinschaft) mempunyai beberapa ciri pokok,yaitu intimate, private, dan exclusive. Intimate yaitu hubungan menyeluruh yang mesra, sedangkan private merupakan hubungan yang bersifat pribadi, khusus untuk beberapa orang saja dan exclusive berarti hubungan itu hanyalah untuk “kita” saja dan tidak untukorang-orang diluar”kita”. Di dalam gemeinschaft, apabila terjadi suatu perselisihan atau pertentangan paham, maka penyelesaiannya tidak cukup dilakukan atas nama pribadi, akan tetapi menjadi urusan bersama atas nama kelompok. Misalnya, perkawinan yang masih ada hubungan keluarga, atau hanya berasal dari satu kampung saja, kalau pada suatu saat terjadi pertengkaran, sehingga sampai pada perceraian maka urusannya menjadi urusan keluarga besar maka para anggotanya merasa sudah saling terikat ketika sudah
masuk dalam paguyuban itu.
Tonnies mengatakan bahwa dalam setiap masyarakat selalu ada salah satu diantara tiga kelompok gemeinschaft, yaitu gemeinschaft by blood, gemeinschaft of place dan gemeinschaft of mind . Gemeinschaft by blood yaitu paguyuban yang merupakan ikatan yang didasarkan pada ikatan darah atau keturunan contohnya: keluarga dan kelompok kekerabatan. Gemeinschaft of place yaitu suatu paguyuban yang terdiri dari orang-orang  yang berdekatan tempat tinggal, sehingga dapat saling tolong-menolong contohnya : RT, RW, dan arisan. Gemeinschaft of mind yaitu suatu gemeinschaft yang terdiri dari orang-orang yang walaupun tempat tinggalnya tidak berdekatan, tetapi mereka mempunyai jiwa dan pikiran yang sama, ideologi sama. Paguyuban semacam ini biasanya ikatannya tidaklah sekuat paguyuban karena darah atau keturunan.
Sementara itu Tonnies (dalam soekanto 2012:120) menyebutkan bahwagesellschaft, adalah kelompok yang didasari oleh ikatan lahiriah yang jangka waktunya hanya terbatas. Menurut Tonnies gesellschaft hanya bersifat sebagai suatu bentuk dalam pikiran belaka serta strukturnya bersifat mekanis sebagaimana dapat diumpamakan dengan sebuah mesin. Gesellschaft ini terutama terdapat di dalam hubungan perjanjian yang berdasarkan ikatan timbal balik. Dalam gesellschaft anggota-anggotanya terdapat sebagai orang luar terhadap yang lain. Tiap anggota hanya bergerak untuk kepentingan sendiri, dan tindakan diambilnya jika ada keuntungan di belakangnya.
Demikian maka disini selalu terdapat bahwa orang-orang itu tidak peduli pada keadaan partnernya kecuali untuk memenuhi suatu segi kebutuhannya :untuk membeli (dalam perdagangan), untuk bermain olahraga, untuk mencapai tujuan politis. Suasana semacam itu terdapat dalam kumpulan dagang dan kumpulan ekonomi lainnya, dimana saudagar yang hanya bergerak untuk mencari untung

Solidaritas
Durkheim (dalam Sztompka 2014:27)membagi tipe masyarakat menjadi dua bentuk, yaitu masyarakat dengan Solidaritas Mekanis dan masyarakat dengan Solidaritas Organis. Tipe masyarakat dengan Solidaritas Mekanis (mechanistic solidarity) dengan masyarakat yang memiliki Solidaritas Organis (organic solidarity).
Durkheim (dalam Setiawan 2013:262) menjelaskan bahwa Suatu masyarakat yang memiliki Solidaritas Mekanis adalah masyarakat dimana individu-individu terikat secara homogen kedalam kesatuan-kesatuan sosial dan concience collective di dalam masyarakat sedemikian itu adalah bersifat represif dimana setiap pelanggaran terhadap peraturan-peraturan yang ada selalu di kaitkan dengan sanksi-sanksi hukuman. Masyarakat dengan Solidaritas Mekanis adalah suatu masyarakat yang relatif homogen, khususnya dalam hal  pembagian pekerjaan.
Solidaritas Organis adalah suatu masyarakat yang telah menjadi semakin heterogen dan semakin mandiri. Heterogenitas dan kemandirian tersebut terjadi sebagai akibat kian berkembangnya pembagian pekerjaan sosial. Namun, patutlah dicatat, bahwa sekalipun heterogenitas dan kemandirian kian berkembang, akan tetapi individu individu yang semakin mandiri itu justru menjadi semakin tergantung satu sama lain dan kian saling soliter. Hal ini disebabkan karena masing-masing individu itu kini hanyalah merupakan suatu bagian saja dari suatu pembagian pekerjaan sosial.
Solidaritas di dalam masyarakat yang demikian ini adalah Solidaritas Organis. Pada masyarakat Solidaritas Organis kebanyakan masyarakatnya lebih cenderung individual karena adanya pembagian pekerjaan sosial. Solidaritas Organis biasanya terdapat di daerah perkotaan yang masyarakatnya cenderung memiliki kesibukan yang sangat padat dan budaya yang ada di perkotaan sudah banyak yang mulai luntur, bahkan nilai-nilai dalam keluarga juga mulai luntur.

BAB II
METODE PENELITIAN


Pendekatan Dan Jenis Penelitian
Dalam penelitian ini pendekatan yang dilakukan adalah melalui pendekatan kualitatif. Artinya data yang dikumpulkan bukan berupa angka-angka, melainkan data tersebut berasal dari naskah wawancara, catatan lapangan, dokumen pribadi, catatan memo, dan dokumen resmi lainnya. Sehingga yang menjadi tujuan dari penelitian kualitatif ini adalah ingin menggambarkan realita empirik di balik fenomena secara mendalam, rinci dan tuntas. Oleh karena itu penggunaan pendekatan kualitatif dalam penelitian ini adalah dengan mencocokkan antara realita empirik dengan teori yang berlaku dengan menggunakkan metode diskriptif kualitatif. Selain itu peneliti bermaksud memahami situasi sosial secara mendalam.metode kualitatif adalah metode penellitian yang berlandaskan pada filsafat positivisme, digunakan untuk meneliti pada kondisi objek yang alamiah (Sugiono, 2002).
Pertimbangan peneliti mengunakan metode kualitatif yakn Menyesuaikan metode kualitatif lebih mudah digunakan jika berhadapan dengan fenomena masyarakat. Metode ini secara langsung membangun hubungan antara penelitidan responden dengan mengunakan teknik pengumpulan dataindept interview.

Kehadiran Penelitian
Dalam penelitian ini, peneliti bertindak sebagai pengumpul data dan sebagai instrument aktif dalam upaya mengumpulkan data lapangan. sedangkan instrument pengumpulan data yang lain selain manusia adalah berbagai bentuk alat-alat Bantu dan berupa dokumen-dokumen lainnya yang dapat digunakan untuk menunjang keabsahan hasil penelitian, namun berfungsi sebagai instrument pendukung. Oleh karena itu, kehadiran peneliti secara langsung di lapangan sebagai tolak ukur keberhasilan untuk memahami kasus yang diteliti, sehingga keterlibatan peneliti secara langsung dan aktif dengan informan dan atau sumber data lainnya di sini mutlak diperlukan.

Lokasi Penelitian
Lokasi penelitian akan dilkukan di Desa Tumpang, Kecamatan Tumpang, Kabupaten Malang. Desa Tumpang merupakan tempat yang sangat memiliki ikatan dengan peneliti. Dari segi penguasaan tempat peneliti telah lama dan menetap di Desa Tumpang.
Desa Tumpang adalah desa yang telah menerapankan bedah rumah. Dari hal tersebut Desa Tumpang dapat diteliti secara mendalam bagaimana realisasi bedah rumah tersebut. Lokasi Desa Tumpang bagi peneliti, mudah dijangkau sehingga waktu, tenaga dan biaya dapat di gunakan seefektif dan seefisien mungkin.

Sumber Data
Sumber data merupakan segala sumber informasi yang dapat dijadikan acuan dalam penelitian. Penelitian ini memiliki dua sumber data yakni:
Data primer
Peneliti memperoleh informasi data dari Aparatur Desa Tumpang yang menentukan responden yang pantas dikaji dalam penelitian ini. Perolehan data dilakukan dengan mensurvey respoden, mewawancarai responden.
Data skunder
Data yang diperoleh dari catatan sipil di kantor Aparatur Desa Tumpang dan juga penelitian sebelumnya. Sumber data skunder ini bersifat memperkuat penemuan dan melengkapi informasi yang terkumpul dari wawancara secara langsung dengan masyarakat Desa Tumpang, Kecamatan Tumpang, Kabupateb Malang.

Prosedur Pengumpulan Data
Pengumpulan data sangat penting dilakuakan dalam penelitian, karena sedgala sumber data dapat diperoleh. Untuk itu peneliti harus terampil dalam mengumpulkan data agar mendapat data yang valid. Dalam penelitian ini peneliti mengunakan teknik pengumpulan data dengan cara, antara lain:
Observasi
Sugiyono (203:2012) bahwa observasi dilakukan tidak terbatas pada objek penelitian, tetapi juga objek-objek alam lain. Nawawi (2012:106) mengatakan bahwa observasi diartikan sebagai pengamatan dan percatatan secara sistimatik terhadap gejala yang tampak pada objek penelitian. Dari kedua pendapat ini jelas bahwa observasi dilakukan agar objek yang akan dimintai informasi benar-benar mengacu pada penelitian ini. Secara kondisi yang sebenarnya menurut peneliti
Wawancara
Wawancara merupakan pertemuan dua orang untuk bertukar informasi dan ide melalui tanya jawab, sehingga dapat dikonstruksikan makna dalam suatu topik tertentu. Nawawi (2012:118) menyebutkan bahwa interviu adalah usaha mengumpulkan informasi dengan mengajukan pertanyaan secara lisan, untuk dijawab secara lisan pula. Sedangkan teknik wawancara secara mendalam (Indepth Interview) ini tidak dilakukan dengan struktur yang ketat dan formal, hal ini dimaksudkan supaya informasi yang dikumpulkan memiliki kedalaman yang cukup. Tujuan dari pengunaan metode ini, untuk memperoleh data secara jelas dan kongkrit tentang  realita yang terjadi di Desa Tumpang, Kacamatan Tumpang, Kabupaten Malang.
Dokumentasi
Dokumentasi adalah setiap bahan tertulis baik berupa karangan, memo,pengumuman, instruksi, majalah, buletin, pernyataan, aturan suatu lembaga masyarakat, dan berita yang disiarkan kepada media massa.Maka metode dokumentasi adalah pengumpulan data dengan meneliti catatan-catatan penting yang sangat erat hubungannya dengan obyek penelitian.Tujuan digunakan metode ini untuk memperoleh data secara jelas dan konkret tentang realita kemiskinan yang terjadi di Desa Tumpang, Kacamatan Tumpang, Kabupaten Malang.

Analisa  Data
Analisis data adalah proses mengorganisasikan dan mengurutkan data kedalam pola, kategori, dan satuan uraian dasar. Dalam penganalisissan tersebut dapat ditemukan tema dan dapat menemukan sesuatu seperti yang disarankan oleh data.
Rumusan di atas mendaatkan garis besar bahwa analisis data bermaksud mengorganisasikan data. Data yang terkumpul banyak sekali dan terdiri dari catatan lapangan, komentar peneliti, gambar, foto, dokumen berupa laporan, biografi, artikel, dan sebagainya.Setelah data dari lapangan terkumpul dengan menggunakan metode pengumpulan data di atas, maka peneliti akan mengolah dan menganalisis data tersebut dengan menggunakan analisis secara deskriptif-kualitatif, tanpa menggunakan teknik kuantitatif.
Analisis deskriptif-kualitatif merupakan suatu tehnik yang menggambarkan dan menginterpretasikan arti data-data yang telah terkumpul dengan memberikan perhatian dan merekam sebanyak mungkin aspek situasi yang diteliti pada saat itu, sehingga memperoleh gambaran secara umum dan menyeluruh tentang keadaan sebenarnya.

Pengecekan Keabsahan Data
Sugiyono (2012:366) uji keabsahan data dalam penelitian kualitatif  meliputi uji, credibility (kepercayaan), depedenbility (kebergantungan),  confirmability (objektifitas). Dalam penelitian kualitatif ini memakai :
Kepercayaan (kreadibility)
Kreadibilitas data dimaksudkan untuk membuktikan data yang berhasil dikumpulkan sesuai dengan sebenarnya. ada beberapa teknik untuk mencapai kreadibilitas ialah teknik : teknik triangulasi, sumber, pengecekan anggota, perpanjangan kehadiran peneliti dilapangan, diskusi teman sejawat, dan pengecekan kecakupan refrensi.
Kebergantungan (depandibility)
Kriteria ini digunakan untuk menjaga kehati-hatian akan terjadinya kemungkinan kesalahan dalam mengumpulkan dan menginterprestasikan data sehingga data dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Kesalahan sering dilakukan oleh manusia itu sendiri terutama peneliti karena keterbatasan pengalaman, waktu, pengetahuan. Cara untuk menetapkan bahwa proses penelitian dapat dipertanggungjawabkan melalui audit dipendability oleh ouditor independent oleh dosen pembimbing.
Kepastian (konfermability)
Kriteria ini digunakan untuk menilai hasil penelitian yang dilakukan dengan cara mengecek data dan informasi serta interpretasi hasil penelitian yang didukung oleh materi yang ada pada pelacakan audit.

Tahap-Tahap Penelitian
Pelaksanaan penelitian ada empat tahap yaitu : (1) tahap sebelum ke lapangan, (2) tahap pekerjaan lapangan, (3) tahap analisis data, (4) tahap penulisan laporan’’.  Dalam penelitian ini tahap yang ditempuh sebagai berikut :
Tahap sebelum kelapangan, meliputi kegiatan penentuan fokus, penyesuaian paradigma dengan teori, penjajakan alat peneliti, mencakup observasi lapangan dan permohonan ijin kepada subyek yang diteliti, konsultasi fokus penelitian, penyusunan usulan penelitian. Dalam tahap pertama ini dilakukakn perencanaan pemenelitian berupa strategi pencarian data berupa penyusunan instrumen, Penyusunan rancangan awal penelitian, Pengurusan izin penelitian, Penjajakan lapangan dan penyempurnaan rancangan penelitian sertaPenyiapan peralatan (piranti)pembantu untuk kegiatan lapangan
Tahap pekerjaan lapangan, meliputi mengumpulkan data yang berkaitan tentang realita kemiskinan yang terjadi di Desa Tumpang, Kacamatan Tumpang, Kabupaten . Dalam tahap ini peneliti mengimplementasian intsrumen yang telah dibuat. Data tersebut diperoleh dengan observasi, wawancara dan dokumentasi dengan cara melihat langsung kegiatan sehari-hari responden.
Tahap analisis data, meliputi analisis data baik yang diperolah melaui observasi, dokumen maupun wawancara mendalam dengan realita kemiskinan yang terjadi di Desa Tumpang, Kacamatan Tumpang, Kabupaten Malang. Kemudian dilakukan penafsiran data sesuai dengan konteks permasalahan yang diteliti selanjutnya melakukan pengecekan keabsahan data dengan cara mengecek sumber data yang didapat dan metode perolehan data sehingga data benar-benar valid sebagai dasar dan bahan untuk memberikan makna data yang merupakan proses penentuan dalam memahami konteks penelitian yang sedang diteliti.
Tahap penulisan laporan, meliputi : kegiatan penyusunan hasil penelitian dari semua rangkaian kegiatan pengumpulan data sampai pemberian makna data. Setelah itu melakukan konsultasi hasil penelitian dengan dosen pembimbing untuk mendapatkan perbaikan saran-saran demi kesempurnaan skripsi yang kemudian ditindaklanjuti hasil bimbingan tersebut dengan penulis skripsi yang sempurna. Langkah terakhir melakukan pengurusan kelengkapan persyratan untuk ujian skripsi.



Daftar Pustaka

Agustina, Ika. 2009. Faktor-Faktor Motivasi Yang Mempengaruhi Kinerja Karyawan Pada Pt Gaya Menunggal Kresitama.  Universitas Guna Dharma. (Online) (www.gunadarma.ac.id/library/articles/graduate/economy/2009/Artikel_10205611.pdf),diakses pada 31 Maret 2015.
Departemen Sosiologi. 2012. Pergeseran Nilai dalam Hubungan Antar Generasi Serta Dampak Terhadap Lansia Studi Deskriptif Lansia yang Tinggal Di Panti Werdha “Majapahit” Mojokerto.FISIP, Universitas Airlangga. (Online) (http://alhada-fisip11.web.unair.ac.id/), diakses pada 27 Maret 2015.
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. 2014. Ilmu Pengetahuan Sosial buku guru. Jakarta: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.
Koentjaraningrat. 2009. Pengantar Ilmu Antropologi. Jakarta: Rineka Cipta.
Kaelan. 2012. Metode Penelitian Kualitatif Interdisipliner. Yogyakarta: Paradigma.s
Nawawi, H. Hadari. 2005. Metode Penelitian Bidang Sosial. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
Poespowardojo, Soerjanto dan Bertens K. 1978. Sekitar Manusia Bunga Rampai Tentang Filsafat Manusia. Jakarta: Gramedia.
Sugiyono. 2012. Metode penelitian pendidikan pendekatan Keauntitatif, kualitatif, dan R&D. Bandung: Alfaberta.
Seokanto, Soerjono. 2012. Sosiologi Suatu Pengantar. Rajawali Pers: Jakarta.
Setiadi, Elly M dan Kolip, Usman. 2013. Pengantas Sosiologi Pemahaman Fakta Dan Gejala Permasalahan Sosial: Teori, Aplikasi Dan Pemecahannya. Jakarta: Kencana.
Setiawan,Ramdhani. 2013. Solidaritas Mekanik Ke Solidaritas Organik Suatu Ulasan Pemikiran Emile Durkheim. FISIP, Universitas Maritim raja Ali Haji. (Online) (http//riset.umrah.ac.id/wp-content/uploads/2013/10/SOLIDARITAS-MEKANIK-KE-SOLIDARITAS-ORGANIK.pdf), diakses pada 30 Maret 2015.
Silalahi, Eli Nova. 2013. Corak Gemeinschaft Punguan Parsahutaon Dos Roha dalam Realisasi Sosial Masyarakat Batak Perantauan Di Tegal. Jurusan Sosiologi dan Antropologi, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Semarang. (online)(lib.unnes.ac.id/18030/1/3401409029.pdf), diakses pada 27 Maret 2015.
Suharto, Toto. Konsep dasar pendidikan Bebasis Masyarakat. Fakultas Tarbiyah IAIN Raden Fatah Palembang. (Online),(eprints.uny.ac.id/3789/1/A01-toto.pdf), diakses pada 31Maret 2015.


Maqom-maqom dalam Tasawuf

MAQAM-MAQAM DALAM TASAWUF

A.   Pengertian Maqam dalam Tasawuf
Maqamat merupakan bentuk jamak dari maqam. Secara etimologi maqam mengandung arti kedudukan dan tempat berpijak dua telapak kaki.  Menurut terminology, istilah maqam mengandung pengerrtian kedudukan, posisi, tingkatan, atau kedudukan tahapan hamba dalam mendekatkan diri kepada Allah.
Menurut Abdurrazaq Al-Qasami, maqam adalah pemenuhan terhadap kewajiban-kewajiban yang telah ditetapkkan. Jika seseorang belum memenuhi kewajiban-kewajiban yang terdapat dalam suatu maqam, ia tidak boleh naik ke jenjang yang lebih tinggi.
Menurut Imam Al-Qusairi, yang dimaksud dengan maqam adalah tahapan adab (etika) seorang hamba dalam wushul kepada-Nya dengan bermacam-macam upaya yang diwujudkan dengan suatu tujuan pencapaian dan ukuran tugas. Masing-masing berbeda dalam tahapannya sendiri ketika dalam kondisi tersebut, serta tingkah laku riyadhah  menuju kepada-Nya.[1]
Menurut Dzu An-Nun Al-Mishri, maqam-maqam dapat diketahui  berdasarkan tanda-tanda, symbol-simbol dan amalannya. Oleh karena itu, keberhasilan menjalani maqamat merupakan penilaian yang berasal dari Allah, sekaligus mencerminkan kedudukan seorang salik dalam pandangan-Nya.
Menurut Evelyn Underhill, jalan mistik sebagai jalan yang dilewati oleh seorang salik menuju jalan Allah. Langkah-langkah dalam proses itu adalah[2]
1.      Bangkitnya kesadaran (awakening)
2.      Pembersihan (purification)
3.      Penerangan (illumination)
4.      Malam gelap jiwa (the dark night state)
5.      Kesadaran bersatu (the unitive state)
Maqam-maqam itu harus dilalui oleh seorang salik secara bertahap. Menurut seoranf arif, mencapa suatu maqam tanpa melalui maqam sebelumnya merupakan sesuatu yang tidak mungkin. Sesuatu yang menyulitkan adalah bahwa sufi berbeda dalam mengonstruksi urutan-urutan maqam dalam tasawuf. Namun, hal ini akan dijembatani oleh syaikh untuk memberikan petunjuk kepada murid.
Al-Ghazali memberikan urutan maqam seperti berikut : taubat, sabar, syukur, khauf, raja’, tawakkal, mahabbah, ridha, iikhlas, muhasabah, dan muraqabah.
Sementara itu, As-Suhrawardi dalam bukunya Al-‘Awarif Al-Ma’arif merumuskan maqam sebagai berikut: taubat, wara’, zuhud, sabar, fakir, syukur, khaouf, tawakkal dan ridha.
Menurut Ibnu Arabi dalam Al-Futuhat Al-Makkiyah, menyebutkan enam puluh maqam dan berusaha menjelaskan secara rinci, tetapi tidak begitu mempedulikan sistematika maqam tersebut. Dalam menempuh itu, sufi atau calon sufi senantiasa melakukan bermacam-macam ibadah, mujahadah dan kontemplasi yang sesuai dengan ajaran agama.
Maqam pertama yang harus ditempuh oleh sufi atau calon sufi adalah taubat. Setelah itu, ia akan menempuh beberapa maqam yang lain, yaitu mujahadah (kesungguhan), khalwat (bersunyi diri), uzlah (menyingkir diri dari masyarakat), takwa, wara’ (mengekang dan menahan diri), zuhud, sahar ( berjaga pada malam hari), khaouf (takut dan cemas) dan raja’ (harap).[3]

B.     Maqam-Maqam Dalam Tasawuf
1.      Taubat
Taubat secara etimologi adalah kembali, meminta pengampunan. Dalam perspektif sufistik, taubat dimaknai sebagai kembali dari segala perbuatan tercela menuju perbuatan terpuji sesuai dengan ketentuan agama. Taubat adalah kembali menuju kebenaran, perubahan hati, juga berarti penyesalan.[4]
Taubat merupakan tahapan pertama yang ditempuh oleh sufi untuk mendekatkan diri kepada Allah. Taubat adalah asal semua maqam dan dasrnya, sebagai pembuka setiap hal. Taubat adalah permulaan dari maqamat. Taubat yang dimaksud sufi adalah taubat yang sebenar-benarnya, taubat yang tidak akan membawa dosa lagi.
Taubat terdiri dari tiga komponen yaitu :[5]
1.      Ilmu
2.      Hal (kondisi)
3.      Amal Perbuatan
Ilmu adalah mengetahui bahaya yang muncul dari dosa. Dosa dapat menjadi hijab (penghalang) antara seorang hamba dan penciptanya yang dicintai. Apabila seseorang telah mengetahui hal ini dengan penuh keyakinan di dalam hati, maka akan muncul rasa sedih ketika sesuatu yang dicintainya hilang dari dirinya.
Semua harus diawali dengan ilmu karena dengan ilmu akan membawa ke arah kebaikan, yaitu dengan melahirkan iman dan yaqin. Iman adalah mempercayai bahwa dosa merupakan racun yang menghancurkan, sedangkan yaqin adalah meyakinkan apa yang dipercayai dan menghilangkan keraguan bahwa dosa itu adalah racun yang menghancurkan. Pada akhirnya akan membuahkan cahaya hati yang dapat merasakan penyesalan atas kemaksiatan yang pernah dilakukannya dan merasakan bahwa kemaksiatan itu telah menjadi hijab (penghalang) antara ia dan Allah Zat yang sangat dicintainya.
Taubat juga sering diartikan dengan penyesalan. Selanjutnya, buah dari penyesalan itu adalah meninggalkan apa yang membuatnya menyesal.
Rasulullah SAW bersabda, “ Penyesalan adalah taubat.” (Ibnu Maajah, Ibnu Hibban dan Hakim).
Dengan pengertian ini dikatakan bahwa taubat adalah mencairkan apa yang ada di dalam hati karena kesalahan yang pernah dilakukan, hal ini terjadi karena semata-mata rasa sakit.
Dikatakan pula, “Taubat adalah api yang menyala di dalam hati.”
Taubat adalah melepaskan pakaian kepalsuan dan mengenakan pakaian kesetiaan.
Sahal bin Abdillah at-Tastari berkata, “Taubat adalah mengganti perbuatan tercela dengan perbuatan terpuji. Hal itu tidak dapat terealisasi kecuali dengan menyendiri, diam dan makan-makanan yang halal.” Ia seakan-akan mendefinisikan taubat dengan makna ketiga (amal perbuatan).[6]
Definisi taubat yang diberikan oleh para ulama sangat banyak sekali, akan tetapi dengan mengerti tiga makana taubat (ilmu, hal (kondisi), dan amal perbuatan), maka akan dapat mencakup seluruh definisi yang diberikan para ulama. Sesungguhya mengetahui hakikat permasalahan lebih penting daripada mengetahui definisi-definisi secara tekstual.
Allah Ta’ala telah memerintahkan agar bertaubat dalam firman-Nya,[7]
“…dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.” (An-Nuur : 31)
“Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubatan nasuha (taubat yang semurni-murninya).” (At-Tahrim :8)
Sedangkan Nabi SAW bersabda,
“Wahai sekalian manusia, bertaubatlah kalian semua kepada Allah. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Allah dalam sehari seratus kali.” (Diriwayatkan Imam Bukhari dan Imam Muslim).
  Taubat selamanya wajib hukumnya. Manusia tidak lepas dari kemaksiatan. Sekalipun lepas dari kemaksiatan anggota badan, namun tidak lepas dari keinginan melakukan dosa didalam hatinya. Jika dia lepas dari semua itu, namun dia tidak akan lepas dari bisikan syetan yang memunculkan berbagai macam yang timbul di hati yang terpisah-pisah dan menjauhkan orang dari dzikir kepada Allah Ta’ala. Jika dia lepas dari itu namun tidak lepas dari kelalaian dan keterbatasan ilmu tentang Allah Ta’ala dengan segala sifat-sifat dan perbuatan-perbuatan-Nya. Semua itu adalah kekurangan dan setiap orang tidak akan lepas dari kekurangan ini. Akan tetapi setiap manusia bertingkat-tingkat kemampuannya dan prinsip dalam semua itu harus memilikinya.[8]

ü  Kesempurnaan taubat dan syarat-syaratnya
Diantara syarat-syarat taubat yang benar adalah azam (kemauan yang keras) untuk tidak mengulangi dosa-dosa itu d masa yang akan datang, tidak juga mengulangi dosa yang semacamnya. Dia harus berazam yang demikian dengan sekuat-kuatnya. Perumpamaan yang demikian itu adalah seperti orang sakit yang mengetahui bahwa buah-buahan berbahaya ketika ia sedang sakit, lalu dia berazam sangat kuat untuk tidak memakannya sedikit pun dari jenis buah-buahan selama dia masih dalam keadaan sakit.[9]
Telah disebutkan bahwa orang yang bertaubat dia harus melakukan berbagai amal yang berlawanan dengan kejahatan apa dilakukannya agar menghapus dan mengkaffarahnya. Amal-amal kebaikan yang menghapus adalah dengan hati dan lisan serta anggota badan sesuai dengan jenis kejahatannya. Apa-apa yang dengan hati seperti merengek dan merendahkan diri. Sedangkan dengan lisan adalah pengakuan akan kezhaliman yang ia lakukan dan istigfar. Seperti mengucapkan, “Wahai Rabbku, aku telah berbuat zhalim maka ampunilah aku.”
Tanda tobat itu sendiri adalah adanya penyesalan, kesedihan, meneteskan air mata banayk menangis dan bertafakkur, sedangkan syarat diterimanya taubat atas kemaksiatan yang telah dilakukan pada masa lalu (madhi) adalah mengingat apa yang telah dilakukan sejak ia baligh atau ketika pertama kali mimpi junub, seperti ibadah-ibadah yang telah ditinggalkan pada tahun demi tahun, bulan demi bulan, hari demi hari, waktu demi waktu. Selain itu juga meninggalkan ibadah-ibadah yang dilakukan dengan tidak sempurna. Kemudian mengingat kemaksiatan-kemaksiatan yang pernah dilakukan .
Contoh:
Apabila ia meninggalkan sholat atau mengerjakan sholat dengan memakai pakaian yang najis atau mengerjakan sholat dengan niat yang tidak benar karena kebodohan akan syarat-syarat niat, maka ia harus mengqadha sholatnya. Sekiranya ia ragu dengan jumlah sholat yang telah ditinggalkan, maka hitunglah jumlah sholat mulai ia baligh, dengan dipotong beberapa waktu yang benar-benar diyakininya telah ia kerjakan. Ia harus menghitung sholat-sholat yang telah ditinggalkan sesuai dengan prasangka yang kuat.
Apabila meninggalkan puasa, baik meninggalkan puasa karena dalam perjalanan dan ia belum membayarnya (qadha) atau ia berbuka puasa dengan sengaja, atau ia lupa niat pada malam harinya, maka ia harus mengqadhanya, yaitu dengan cara menghitung hari-hari yang ia tidak berpuasa.
2.      Zuhud
Zuhud atau asketisme secara etimologi berasal dari kata zahada, artinya raghiba ‘anhu wa taraka (benci dan meninggalkan sesuatu). Secara terminology, zuhud ialah menjauhkan diri dari segala sesuatu yang berkaitan dengan dunia.[10] Zuhud merupakan pendekatan penting dalam tahap awal perjalanan spiritual, namun tidak dianjurkan bagi seseorang yang hendak mencapai kesempurnaan. Sebab asketisme ini mengabaikan sebab-sebab sekunder, padahal melalui sebab-sebab sekunder inilah manusia mendapatkan pengetahuan tentang Allah.
Menurut Prof. Dr. H. M. Amin Syukur, M.A. bahawa secara terminologi zuhud tidak dapat dilepaskan dari dua hal. Pertama, zuhud sebagai bagian tidak terpisahkan dari tasawuf. Kedua, zuhud sebagai moral (akhlak) Islam dan gerakan protes. Apabila tasawuf dartikan adanya kesadaran dan komunikasi langsung antara manusia dan Tuhan sebagai perwujudan ihsan maka zuhud merupakan suatu maqam menuju tercapainya perjumpaan atau ma’rifat kepadanya.
Zuhud adalah sebuah ungkapan yang menunjukkan berkurangnya kesenangan akan sesuatu karena menginginkan yang lebih baik dari itu.
Dilihat dari maksudnya, zuhud terbagi menjadi tiga tingkatan. Pertama (terendah), menjauhkan dunia ini agar terhindar dari hukuman di akhirat. Kedua, menjauhi dunia dengan menimbang imbalan di akhirat. Ketiga, mengucilakn dunia bukan karena takut atau karena berharap, tetapi karena cinta kepada Allah belaka. Orang yang berada pada tingkat tertinggi ini akan memandang segala sesuatu, kecuali Allah, tidak mempunyai arti apa-apa.
Menurut imam Al-Ghazali, ciri-ciri zuhud adalah :[11]
1.      Tidak senang apabila memiliki sesuatu dan tidak bersedih ketika kehilangan sesuatu (zuhud dalam harta). Allah berfirman, “…..Supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu….”(al-hadid : 23).
2.      Menganggap sama antara pujian dan celaan (zuhud dalam kedudukan).
3.      Hatinya dipenuhi  dengan kecintaan kepada Allah, meskipun tidak dapat lebih daripada kecintaan kepada dunia dan kecintaan kepada Allah. Keduanya ibarat air dan udara dalam gelas di hati. Apabila air dimasukkan ke dalam gelas, maka udara akan keluar, begitu pula apabila ditiupkan udara, air akan keluar. Air dan udara tidak mungkin dapat disatukan.
Ahli ma’rifah berkata, “ Apabila iman seseorang bergantung dengan hatinya, maka ia akan mencintai Allah dan dunia bersama-sama. Akan tetapi, apabila iman telah masuk ke lubuk hatinya, maka ia akan membenci dunia.”
Abu Sulaiman berkata “ Barangsiapa yang sibuk dengan dirinya, maka ia tidak akan disibukkan dengan orang lain. Ini merupakan maqam orang-orang yang beramal. Barangsiapa sibuk dengan Tuhannya, maka ia tidak disibukkan dengan dirinya sendiri. Ini merupakn maqam ma’rifah (‘arifiin). Orang yang zuhud harus memiliki salah satu dari dua sifat ini. Maqam yang pertama (‘amiliin) akan menyibukkan dirinya dengan dirinya sendiri. Pada saat itu, bagi-Nya sama antara pujian dan celaan atau ada dan ketiadaan. Tidaklah dengan memiliki harta menjadikan orang tidak mempunyai sifat zuhud.”
Jadi, ciri-ciri sifat zuhud adalah kondisi yang sama ketika dalam keadaan miskin atau kaya, mulia atau terhina, pujian atau celaan. Semua itu disebabkan keakrabannya dengan Allah.
Yahya bin Mu’adz berkata, “Ciri-ciri sifad zuhud adalah dermawan atas apa yang dimiliki.”[12]
Ibnu Khalif berkata, “ciri-ciri sifat zuhud adalah merasa tenang ketika sesuatu miliknya. Zuhud adalah menghindari dunia tanpa terpaksa.”
Ahmad bin Hanbal dan sufyan ats-Tsauri berkata, “Ciri-ciri zuhud adalah tidak panjang angan-angan.”
3.      Faqr (Fakir)
Fakir secara etimologi artinya membutuhkan atau memerlukan. Kata fakir mengandung pengertian miskin terhadap spiritual atau hasrat yang sangat besar terhadap pengosongan jiwa untuk menuju kepada Allah.[13]
Dalam term sufi pengertian fakir menunjukkan kepada seseorang yang telah mencapai akhir “lorong spiritual”. Menurut Ibnu Qudamah bahwa semu orang itu fakir, karena mereka membutuhkan kepada kemurahan Tuhan.
Fakir dapat berarti sebagai kekurangan harta dalam menjalankan kehidupan di dunia. Sikap fakir penting dimiliki oleh orang yang berjalan menuju Allah, karena kekayaan atau kebanyakan harta memungkinkan manusia lebih dekat pada kejahatan dan sekurang-kurangnya membuat jiwa tertambat pada selain Dia.
Menurut Al-Ghazali, fakir dibagi dalam dua macam, yaitu sebagai berikut :[14]
a.       Fakir secara umum, yaitu hajat manusia kepada yang menciptakan dan yang menjaga eksistensinya. Fakir seperti ini adalah fakir seorang hamba kepada Tuhannya. Sikap seperti ini hukumnya wajib karena menjadi sebagian iman dan sebagai buah dari ma’rifat.
b.      Faqir muqayyad (terbatas), yaitu kepentingan yang menyangkut kehidupan manusia, seperti uang yang belum dimiliki atau dengan kata lain kepentingan manusia yang dapat dipenuhi oleh selain Allah.
Sufi tidak melarang seseorang yang fakir untuk menerima pemberian dan bantuan orang lain, baik yang berupa fasilitas maupun materi. Jadi pada dasarnya berusaha meninggalkan syubhat dan hanya mencari yang halal. Jika maqam fakir telah sampai pada puncaknya, yaitu mengosongkan seluruh hati dari ikatan dan keinginan terhadap apa saja selain Tuhan, maka maqam itu merupakan perwujudan penyucian hati secara keseluruhan terhadap apa yang selain-Nya.
4.      Syukur
Syukur secara etimologi ialah membuka dan menyatakan. Adapun menurut terminologi tasawuf, syukur ialah menggunakan nikamat Allah untuk taat dan tidak menggunakannya untuk berbuat maksiat kepada-Nya[15]. Orang yang menggabungkan sabar dengan syukur adalah orang yang memiliki hikmah.
Syukur merupakan pengetahuan yang membangkitkan kesadaran bahwa satu-satunya pemberi nikmat adalah Allah dan cakupan rahmat-Nya sangat luas. Keutamaan syukur mengungguli peringkat lainnya dalam maqamat bahwa taubat, zuhud dan sabar tidak berlaku lagi di akhirat. Orang tidak memerlukannya lagi di syurga, tetapi bersyukur tetap dilakukan.
Bersyukur itu terbagi menjadi tiga bagian, yang diantaranya bersyukur dengan lisan, maksudnya ialah mengakui segala kenikmatan yang telah diberikan oleh Allah SWT. kepada hamba-Nya dengan sikap merendahkan diri. bersyukur dengan badan, yakni Bersikap selalu sepakat serta melayani (mengabdi) kepada Allah SWT. bersyukur dengan hati, yaitu : Mengasingkan diri di hadapan Allah SWT. dengan cara konsisten menjaga akan keagungan Allah SWT.
Bersyukurnya orang dengan lisan itu biasanya adalah syukur yang berilmu. Sedangkan syukur dengan badan itu biasanya adalah orang yang beribadah, kenyataan ini dapat direalisasikan dengan bentuk perbuatan. Akan tetapi syukur dengan hati adalah syukurnya orang yang ahli ma'rifat, dan ini dapatlah direalisasikan dengan cara ihwal secara konsisten. 
Manusia pada umumnya adalah mempunyai sifat lalai dan tidak menyadari bahwa nilai suatu nikmat yang telah dianugerahkan Allah kepada dirinya. Maka dia baru terasa apabila nikmat itu dicabut dari dirinya, maka dia barulah merasakan dan menyadarinya, contohnya adalah nikmat berupa kesehatan jasmani dan juga kesehatan rohani dan sebagaimana dalam hal ini Allah telah berfirman mengenai hidup. Kehidupan di dalam surat An-Naml ayat 40 yang artinya: 
Barangsiapa yang bersyukur Maka Sesungguhnya Dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri dan Barangsiapa yang ingkar, Maka Sesungguhnya Tuhanku Maha Kaya lagi Maha Mulia". 

5.      Sabar
Sabar menurut terminologi bahasa, artinya menahan dan mencegah diri. Allah telah berfirman :
“Dan sabarlah kamu bersama dengan orang-orang yang menyeru Tuhanya di pagi dan petang hari dengan mengharap keridaan (wajah)-Nya”. (Qs. ALKhafi;28)
Sikap sabar dibutuhkan seorang pencari jalan untuk mendapatkan apa yang berada disisi Allah. Sikap sabar yang sesungguhnya adalah pada saat memperoleh cobaan yang pertama. Bagi Al-Jailani, dunia ini penuh dengan penderitaan dan musibah, tidak ada satu kenikmatan pun, kecuali di didalamnya ada bencana, tidak ada satupun kegembiraan, kecuali disertai kekhawatiran, dan tidak ada satupun keluasan kecuali bersamanya ada kesempitan ( al-Fath al –Rabbany, hal. 29). Maka, wajar jika kedudukan sabar dalam Al-Quran disamakan dengan kedudukan shalat oleh allah, hanya mereka yang “khusyuk” yang dijamain allah dapat melampaui ujian kesabaran dan shalat tersebut.
“Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk.” (Qs. AL-Baqarah;45)
Menurut Al-Jailani, kesabaran merupakan salah satu penghapus hijab antara hamba dan Tuhanya. Al-Jailani menuturkan bahwa hal-hal yang dapat menghilangkan penghalang tersebut, antara lain yang terpenting adalah menjauhi segala kemaksiatan, bersabar saat datang kesulitan, ridha kertika datang ketentuan dan takdir, serta bersyukur ketika datang kenikmatan ( al-Fath al –Rabbany, hal. 193). Barang siapa tidak punya kesabaran maka tiada sarana yang dapat menolongnya. Allah menggantungkan pertolongan dengan kesabaran dan ketakwaan.
“Ya (cukup), jika kamu bersabar dan bertakwa, dan mereka datang menyerang kamu dengan seketika itu juga, niscaya allah menolong kamu dengan lima ribu malaikat yang memakai tanda .” (Qs. Ali Imran:125)
Terkait dengan berbagai penjelasan tentang pentingnya kesabaran dalam dalam mengelola nafsu atau jiwa untuk berjalan menuju Allah maka dalam Al-Quran disebutkan berbagai jenis kesabaran yang utama, diantaranya :
a)      Sabar dalam menghadapi berbagai cobaan di dunia
“ Sesungguhnya kami telah menciptakan manusia berada dalam susah payah.” (Qs.Al-Balad:4)
b)      Sabar untuk tidak memperturutkan kemauan yang diinginkan oleh hawa nafsu. Sehubungan dengan hal ini, Allah Swt. Telah berfirman
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah harta-hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengigat Allah. Barang siapa yang mengerjakan hal tersebut maka sungguh mereka itu termasuk golongan orang yang merugi .” (Qs. Al-Munaafiquun :9)
c)      Tetap bersabar, tidak pernah melirik pada kesenangan yang dimiliki oleh orang lain dan tidak terpedaya oleh harta serta anak-anak yang dimiliki oleh mereka
d)     Sabar dalam mengerjakan ketaatan kepada Allah. Hal ini merupakan jenis sabar yang paling besar dan yang paling berat dirasakan oleh jiwa manusia.
e)      Sabar dalam menanggu derita menyeru manusia kejalan Allah Swt. Karena sesungguhnya tidak samar lagi dari setiap keadaan yang dialami manusia pada masa sekarang, kini mereka mulai menjauh dari agama. Keadaan seperti ini jelas menuntut terselenggaranya dakwah yang besar, protes yang keras terhadap segala bentuk kemungkaran, dan usaha yang giat tak kenal lelah untuk menegakkan kebenaran.
f)       Sesungguhnya disana terdapat jenis kesabaran yang sangat diperlukan pada saat yang menegang, saat dalam peperangan, saat berhadapan dengan musuh, dan saat bertarungnya dua barisan dalam kacah peperangan, saat menghadapi orang-orang yang melawan Allah maka sabar merupakan syarat utama untuk meraih kemenangan dan lari dari medan perang adalah dosa besar. Oleh karena itu, dalam kondisi seperti tersebut Allah Swt. Mewajibkan untuk teguh dan pantang mundur.[16]
Dikalangan para sufi, sabar diartikan antara lain dengan hanyut (fana’) dalam bencana tanpa keluhan. Secara rinci Abu Nasr as-Sarraj (w.988 M) menjelaskan sabar adalah konsisten dalam menjauhi larangan dan memegang perintah dan orag yang sabar adalah yang hanyut (fana’)bersama allah tanpa protes ataupun mengeluh. Jadi sabar sebagai maqam, lebih diarahkan pada upaya menahan segala rintangan dalam parjalanan menuju allah, karena lebih bersifat intuitif dantransendental.
Sabar dalam a’mal al-qulub dimaknai sebagai sikap istiqamah atau konsisten dalam melaksanakan kewajiban dan menjauhi larangan allah. Menerima segala musibah dan mampu menahan ajakan nafsu terhadap hal-hal yang dilarang allah. Kecuali itu disebutkan pula bahwa sabar mempunyai tingkatan berdasarkan ada tidaknya ruang gerak kebebasan dan ikhtiar manusia. Sabar menjauhi maksiat lebih tinggi derajatnya daripada sabar menanggung musibah. Sebab yang pertama mengandung unsur ikhtiar dan kebebasan. Sedang yang kedua tidak demikian karena suatu musibah jelas diluar ikhtiar dan pilihan manusia. Tingkat sabar pertama adalah dimiliki oleh para wali allah. Dengan demikian sabar dalam a’mal al-qulublebih rasional dan lebih empirik dan kontekstual.[17]
Ø  Ada beberapa definisi sabar :
·         Sabar merupakan kemampuan seseorang dalam mengendalikan dirinya terhadap sesuatu yang terjadi, baik disenangi maupun dibenci (Abu Zakaria Ansari)
·         Menerima yang terjadi, disebut syukur, menerima yang terjadi tidak sesuai dengan yang diharapkan, namanya sabar, menerima sesuatu yang akan datang, namanya ridlo
·         Sabar adalah keluar dari suatu bencana sebagaimana sebelum terjadi bencana itu (asmaran)
·         Sabar adalah kondisi jiwa yang terjadi karena dorongan ajaran agama dalam mengendalikan hawa nafsu (Al Ghazali).[18]
Ø  Pembagian sabar
Ada ulama yang membagi sabar menjadi tiga:
a.       Sabar dalam musibah, yaitu kerelaan menerima kehendak Allah yang pada awalnya terasa tidak nyaman, seperti sakit, kurangnya harta, ketakutan, kelaparan, bencana alam, dsb.
b.      Sabar dalam ibadah, kerelaan melakukan kehendak Allah yang wujud dalam perintah-perintah-Nya.
c.       Sabar dalam maksiat. [19]
Tiga bentuk kesabaran itu memiliki tingkatan derajat kebaikan sebagaiman urutan dari a-c. Sabar yang paling berat dan tinggi derajatnya adalah sabar dalam maksiat, sedang yang paling ringan adalah sabar dalam musibah. Sabar terhadap musibah sesungguhnya terasa ringan mengigat banyak orang yang peduli kepada kita, berusaha menolong kita, membantu melepaskan kita dari musibah. Tetapi berbeda dengan seseorang yang sedang memerankan diri sebagai pelaku kemaksiatan. Terkadang diri kita menyadari bahwa yang kita lakukan melanggar norma agama atau masyarakat. Namun kita seakan berulang kali ditarik untuk kembali melakukanya. Lebih berat lagi kenyataan yang menyakitkan datang dari lingkungan kita.[20]
6.      Ridho
Ridha adalah kesukarelaan atas apa yang menjadi ketentuan Allah bagi dirinya, dalam segala hal, yang disertai dengan kesadaraan akan kekuasaan Allah dalam apa yang terjadi dan berlaku bagi dirinya. Ridha yang dikuatkan oleh nash ialah ridha dengan Allah sebagai Tuhan, islam sebagai agama,dan ridha dengan Muhammad Saw sebagai nabi anutan, ridha dengan apa yang telah disyariatkan oleh Allah bagi hamba-hamba-Nya dengan mengharamkan apa yang diharamkan-Nya, mewajibkan apa yang diwajibkan-Nya, atau membolehkan apa yang dibolehkan-Nya. Ridha kepada Allah Swt ialah ridha dengan qadha dan qadar-Nya, serta memuji-Nya dalam semua keadaan dan meyakini bahwa hal tersebut mengandung hikmah belaka  meskipun hal yang ditakdirkan oleh-Nya menyakitkan.
Ridha kepada Allah sebagai Tuhan, ridha kepada Rasul Saw sebagai anutan dengan penuh kepatuhan dan kepasrahan diri. Oleh karena itu, barang siapa dapat merealisasikan dalam dirinya ketiga perkara, yaitu ridha kepada Allah sebagai Tuhan dan sesembahan, ridha kepada Rasul sebagai anutan dengan penuh ketaatan, ridha kepada agama-Nya dengan penuh kepasrahan maka dia adalah orang yang benar-benar siddiq. Hal ini memang mudah diucapkan, tetapi sangat sulit pelaksanaanya.[21]
Menurut al-Junaidi (W. 910 M), arti ridha adalah meninggalkan usaha (raf’u al-ikhtiyar). Sedangkan Dzu al- Nun al-Misri (W.859 M) menjelaskan bahwa ridha adalah menerima ketentuan dengan kerelaan hati. Selanjutnya dia menjelaskan tanda-tanda orang yang ridha adalah 1) usaha sebelum terjadi ketentuan, 2) lenyaplah resah gelisah sesudah terjadi ketentuan, dan 3) cinta yang bergelora disaat terjadi mala petaka.
Pengertian ridha diatas merupakan perpaduan antara sabar dan tawakal, sehingga melahirkan sikap mental senang dan tenang menerima segala situasi dan kondisi. setiap yang terjadi disambut dengan hati yang terbuka bahkan dengan rasa nikmat dan bahagia walaupun berupa bencana. Suka dan duka diterima dengan gembira sebab diyakini apapun yang datang adalah ketentuan dari Allah. Para sufi berbeda tentang posisi ridha sebagian mereka menempatkannya sebagai maqam terakhir dari perjalanan sufi, karena dipandang merupakan akumulasi dari maqam-maqam sebelumya. Tetapi sebagian sufi yang lain mengatakan bahwa setelah maqam ridha masih terdapat maqam-maqam berikutnya seperti mahabbah, fana’, ma’rifah, ittihad dan seterusnya.
Berbeda dengan pandangan diatas, Ibn Taimiyyah memandang ridha sebagai moralitas islam yang harus dilakukan setip muslim. Karena itu dia memandang ridha sebagai amalan batin yang integral dengan sifat-sifat lainnya. Berangkat dari pandangan ini dia memberi makna ridha yang berbeda-beda sesuai dengan konteksnya. Misalnya jika dikaitkan dengan sabar, maka ridha merupakan sabar yang terbaik. Sebab hakikat ridha adalah sabar dengan tanpa protes dan mengeluh. Jika dihubungkan dengan tawakal maka keduanya dapat memelihara takdir allah secara benar. Tawakal diposisikan sebelum terjadinya takdir, sedangkan ridha diposisikan sesudah terjadinya takdir. Jika dikaitkan dengan mahabbah maka ridha merupakan bagian dari mahabbah. Dengan demikian, ridha dalam konsep a’mal al-qulubmerupakan pengendali batin yang bersifat dinamis dan empiris tidak sebagaimana ridha dalam konsep maqamat yang bersifat pasif dan fatalis.
Dalam uraian diatas dapat ditarik kesimpulan, terdapat perbedaan aspek aksiologi dalam pemikiran tasawuf pada umumnya. Perbedaan itu terletak pada pengetahuan tasawuf dan pengamalanya diorientasikan untuk menghayati eksistensi tuhan, sementara pada pemikiran tasawuf Ibn Taimiyyah diorientasikan pada tujuan menghayati dan mengamalkan perintah-perintah Tuhan. Maka dari itu, meski dalam konsepmaqamat dan   a’mal al-qulub menggunakan term-term yang sama, namun keduanya memiliki kandungan dan implementasi yang berbeda.[22]
Syekh AL-Jailani menyebutkan tahapan-tahapan agar dapat bersifat ridha kepada Allah sebagai berikut (Futuh al-Ghaib,majlis no. 53):
a.       Tidak mengharap dan mengingat apa yang sudah ditentukan bagi dirinya saja atau apa yang tidak ditentukan. Sebab, hukuman yang paling berat adalah berussa mendapatkan apa yang tidak ditakdirkan baginya
b.      Hendaklah dia mementingkan Allah diatas dunia sehingga jika ada pemberian maka itu bukanlah karena ketamakan diri, bukan menyekutukan penyembahanya karena keterlenaan diri.
c.       Dalam menyembah-Nya, janganlah menghendaki balasan-Nya karena jika hal itu yang terjadi maka ibadahnya berarti tidak ikhlas.
d.      Orang yang ikhlas ialah menyembah Allah karena ketuhanan-Nya dan karena memang hanya dia memiliki hak untuk itu.
e.       Karena semua pemberian adalah karunia-Nya maka sikap yang pantas adalah selalu bersyukur kepada-Nya dan bukan meminta imbalan atau balasan karena melakukan ibadah atau penyembahan.
Ridha ditinjau dari penyebabnya adalah sesuatu yang bersifat kasbiy (dapat diupayakan) namun jika ditinjau dari segi hakikatnya maka ridha bersifat mauhibiy (karunia Tuhan). Sesungguhnya, ridha adalah kesudahan dari tawakal. Bila tawakal tidak mampu merealisasikan yang didambakan maka barulah datang ridha. Orang yang memantabkan langkah kakinya dengan kokoh dijalan tawakal, niscaya akan meraih ridha. Karena sesungguhnya, sesudah tawakal, pasrah, dan berserah diri, barulah ridha bisa didapatkan. Sebaliknya, tanpa melalui proses tersebut, ridha tidak akan didapatkan.
Ridha mempunyai beberapa kedudukan, antara lain:
a.       Ridha dengan rezeki yang telah diberikan dan dibagikan oleh Allah. Ridha jenis ini bisa jadi ada sebagian orang awam yang dapat melakukannya dengan baik.
b.      Tingkatan ridha yang lebih tinggi ialah ridha dengan apa yang telah ditakdirkan dan ditetapkan oleh Allah Swt.
c.       Adapun yang lebih tinggi daripada kesemuanya ialah ridha dengan Allah sebagai dari segala sesuatu yang selain-Nya.
Kedudukn ini adakalanya sebagaian orang hanya ampu meraih salah satunya, tetapi tidak mampu meraih kedudukan lainya. Ada kalanya pula sebagian dari mereka hanya mampu mendatangkan sebagian dari satu tingkatan tanpa bisa merealisasikan sepenuhnya.
Jadi,intinya adalah ridha merupakan sikap menanggapi dan mengubah segala bentuk penderitaan, kesengsaraan, dan kesusahan menjadi kegembiraan serta kenikmatan (Simuh, 1998:69), yang dalam bahasa Al-Ghazali disebut sebagai sikap menerima apa adanya (Imam Al-Ghazali, ihya’ ‘ulum al-Din: IV, 337) .[23]
7.      Tawakkal
Secara umum pengertian tawakkal adalah pasrah dan mempercayakan secara bulat kepada allah setelah seseorang membuat rencana dan melakukan usaha atau ikhtiar. Akan tetapi, dikalangan sufi pengertian tawakal dipahami lebih mendalam lagi. Misalnya al-Syibli (w.945 M) mengatakan, tawakkal adalah hendaknya engkau merasa tidak ada dihadapan Allah dan Allah senantiasa dihadapan kamu. Hal ini berarti bahwa dalam segala hal baik sikap maupun perbuatan seseorang harus menerimanya secara tulus. Apapun yang terjadi adalah diluar pinta atau usahanya tetapi semua diyakini dari Allah semata. Jelasnya harus menyerah secara bulat kepada kuasa-Nya dan jangan meminta, menolak ataupun menduga-duga. Karena nasib apapun yang diterima pada hakikatnya adalah karunia dari Allah. Berkenaan dengan hal ini seseorang sufi Abu-Nasr as-Sarrj (W. 896 M) mengatakan bahwa permulaan maqam tawakal adalah kesadaran seorang hamba dihadapan Allah laksana mayat ditangan orang yang memandikan, dibolak balik kehendaknya tanpa bergerak, protes maupun melakukan tindakan apapun. Kesimpulnya tawakkal sebagai maqam sufi bersifat fatalis, individualis, dan ahistoris.
Pandangan diatas berbeda dengan konsep tawakal dalama’mal al-qulub yang memberikan ruang gerak secara ikhtiyar kepada manusia, meskipun bersama dengan itu manusia harus menyadari akan kemutlakan kekuasaan Tuhan. Ibn Taimiyyah menolak tawakal dengan pengertian menyerah total, sebab sikap ini pada giliranya akan mendorong orang untuk meninggalkan perbuatan yang diperintahkan dan sebaliknya justru mengerjakan perbuatan yang dilarang serta menghilangkan perbedaan antara hal-hal yang memang harus berbeda. Sebab baik dalam Al-Quran maupun Hadis melarang seseorang meninggalkan perbuatan yang diperintahkan karena percaya kepada takdir dan memerintahkan agar melakukan perbuatan-perbuatan yang manfaat. Dengan demikian, pandangan tawakal ini mengandung makna aktif dan dinamisyang berbeda dengan makna tawakal dalam maqam sufi yang bersifat pasif dan fatalis.[24]
Sementara menurut Al Quran, seruan kepada manusia untuk bertawakal kepada Allah dikaitkan dengan berbagai nilai keagamaan dan kehidupan ( Madjid, 1992:47-48), yaitu:
a.       Tawakal dikaitkan dengan sikap keimanan kepada Allah (Qs.Al-Maidah:23) dan sikap pasrah kepada-Nya (Qs.Yunus:84)
b.      Tawakal kepada Allah diperlukan setiap kali sehabis mengambil keputusan penting (khususnya keputusan yang menyangkut orang banyak melalui musyawarah) guna memperoleh keteguhan hati dan ketabahan dalam melaksakannya, serta tidak mudah mengubah keputusan itu (Qs. Ali Imran:159)
c.       Tawakal juga dilakukan agar keteguhan jiwa menghadapi lawan dan agar perhatian kepada usaha untuk  menegakkan kebenaran tidak terpecah karena adanya lawwan itu, dengan keyakinan bahwa Tuhanlah yang akan melindungi dan menjaga kita (Qs. An –Nisaa’:81)
Seorang muslim memandang tawakal kepada Allah dalam semua pekerjaanya bukan sebagai kewajiban semata, melaikan juga fardu agama yang tidak hanya berkaitan dengan urusan agama, tetapi juga urusan duniawi termasuk didalamnya. Dengan kata lain, tawakal tidak hanya berkaitan dengan urusan duniawi dan mencari rezeki semata, tetapi diharuskan pula dalam masalah beribadah  kepada Allah.
Dengan demikian, tawakal bagi seorang muslim merupakan bagian dari akidah.
“Dan hanya kepada Allah hendaknya kamu bertawakal jika kamu benar-benar orang yang beriman.” (QS.Al-Maa’idah:23) 
Melalui tawakal maka seseorang akan memperoleh berbagai manfaat :
a)      Berkat tawakal kemenangan atas musuh dapat diraih.
b)      Mendatangkan kemaslahatan, menolak mara bahaya dan berbagai macam musibah, serta mendatangkan rezeki dan mneyegarkan kesembuhan
c)      Tawakal kepada Allah menjadi penyebab bagi kuatnya hati dan kebangkitan semangatnya.
d)     Menangkal keterpurukan psikologi dan ketegangan syaraf.
Dari berbgai hikmah tersebut, jelas bahwa tawakal merupakan bagian tidak terpisahkan dari jiwa seseorang yang memperjalankan dirinya menuju Alllah.[25]



[1] Drs. Samsul Munir Amin, M.A. 2015. Ilmu Tasawuf. Jakarta: Amzah. Halaman 169
[2] Ibid. hal 169
[3]  Drs. Samsul Munir Amin, M.A. 2015. Ilmu Tasawuf. Jakarta: Amzah. Halaman 170
[4] Ibid Halaman 171
[5] Said Hawwa. 2010. Tazkiyatun Nafs Intisari Ihya Ulumuddin. Jakarta: Pena Pundi Aksara. Hal. 414
[6] Said Hawwa. 2010. Tazkiyatun Nafs Intisari Ihya Ulumuddin. Jakarta: Pena Pundi Aksara. Hal. 415
[7] Syaikh Jamaluddin Al-Qasimi. 2010.  Ihya ‘Ulumuddin Imam Al-Ghazali. Bekasi: PT Darul Falah. Hal. 545
[8] Ibid hal 547
[9] ibid hal 565
[10] Drs. Samsul Munir Amin, M.A. 2015. Ilmu Tasawuf. Jakarta: Amzah. Halaman 172
[11] Said Hawwa. 2010. Tazkiyatun Nafs Intisari Ihya Ulumuddin.Jakarta: Pena Pundi Aksara. Hal. 351
[12] Said Hawwa. 2010. Tazkiyatun Nafs Intisari Ihya Ulumuddin.Jakarta: Pena Pundi Aksara. Hal. 352
[13] Drs. Samsul Munir Amin, M.A. 2015. Ilmu Tasawuf. Jakarta: Amzah. Halaman 172
[14] Drs. Samsul Munir Amin, M.A. 2015. Ilmu Tasawuf. Jakarta: Amzah. Halaman 173
[15] Drs. Samsul Munir Amin, M.A. 2015. Ilmu Tasawuf. Jakarta: Amzah. Halaman 175
[16]Sholikhin Muhammad, 2009, Tradisi Sufi dari Nabi Tasawuf Aplikasi Ajaran Nabi Muhammad SAW , (Yogyakarta; CAKRAWALA), halm 298-304
[17] Masyharuddin, 2007, Pemberontakan Tasawuf, (Surabaya; JP BOOKS), halm 233-234
[18] Sultoni Ahmad, 2007, Sang Maha- Segalanya Mencintai Sang Maha-Siswa, (Salatiga-Jawa Tengah; Stain Salatiga Press), halm 143
[19] Ibid, halm 153
[20] Sultoni Ahmad, 2007, Sang Maha- Segalanya Mencintai Sang Maha-Siswa, (Salatiga-Jawa Tengah; Stain Salatiga Press), halm 154
[21] Sholikhin Muhammad, 2009, Tradisi Sufi dari Nabi Tasawuf Aplikasi Ajaran Nabi Muhammad SAW , (Yogyakarta; CAKRAWALA), halm 298-304

[22] Masyharuddin, 2007, Pemberontakan Tasawuf, (Surabaya; JP BOOKS), halm 235-236

[23] Sholikhin Muhammad, 2009, Tradisi Sufi dari Nabi Tasawuf Aplikasi Ajaran Nabi Muhammad SAW , (Yogyakarta; CAKRAWALA), halm 316-318

[24] Masyharuddin, 2007, Pemberontakan Tasawuf, (Surabaya; JP BOOKS), halm 234-235

[25] Sholikhin Muhammad, 2009, Tradisi Sufi dari Nabi Tasawuf Aplikasi Ajaran Nabi Muhammad SAW , (Yogyakarta; CAKRAWALA), halm 286-294


Post ulang Berdasarkan : http://istiwasiaturrohmi.blogspot.co.id/2016/03/maqam-maqam-dalam-tasawuf.html?m=1

Imam syuhro w | Template by - Abdul Munir - 2008 - layout4all